1. Imamah: Harus dengan tekstual. Imam terdahulu harus menentukan imam penggantinya secara tekstual dan langsung ditunjuk orangnya, bukan dengan bahasa isyarat. Imamah, sesuatu yang sangat penting, yang tidak boleh terpisahkan antara Rasulullah SAW dengan ummat. Dan tidak boleh dibiarkan masing-masing orang menyampaikan pendapatnya tentang Imamah sendiri-sendiri. Justru harus ditentukan seseorang yang menjadi tempat bertanya dan rujukan.
Mereka berdalil, bahwa dalam Imamah, Rasulullah SAW. telah
menentukan Ali bin Abi Thalib r.a. menjadi imam setelah beliau secara tekstual
yang nyata pada hari "Ghadir Kham" (sebuah hari besar
bagi Syi’ah yang dianggap lebih agung dari pada hari raya Fitri dan Adha. Jatuh
pada tanggal 18 Dzulhijjah, berpuasa pada hari itu menurut mereka sunnah
mu'akkad).
Diyakini bahwa Ali r.a. juga telah menentukan kedua putranya Hasan
dan Husein secara tekstual, dan begitu seterusnya, bahwa setiap imam menentukan
imam berikutnya dengan wasiat dari padanya. Mereka itu disebut " Aushiya' " (penerima wasiat).
2. Ishmah: Setiap
imam terpelihara (Ma'shum) dari segala kesalahan, kelalaian, dan dosa, baik
dosa besar maupun dosa kecil.
3. Ilmu: Setiap imam dititipi ilmu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam untuk menyempurnakan syari'at Islam. Imam memiliki ilmu laduni.
Tak ada perbedaan antara imam dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Sedang yang membedakan adalah bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam mendapat wahyu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah
menitipkan kepada mereka rahasia-rahasia syari'at Islam, agar mereka mampu
memberikan penjelasan kepada manusia sesuai dengan kebutuhan zamannya.
4. Sesuatu Yang Luar Bias`: Peristiwa
yang luar biasa boleh terjadi pada diri imam. Itu disebut "mu'jizat".
Jika tidak ada satu teks tertulis dari imam sebelumnya, maka dalam kondisi
seperti itu penentuan imam harus berlangsung dengan sesuatu yang luar biasa
itu.
5. "Al
Ghaibah" (menghilang): Diyakini bahwa zaman
tidak pernah kosong dari sebuah argumentasi yang membuktikan adanya Allah, baik
secara logika maupun secara hukum. Sebagai konsekuensi logisnya, bahwa imam
yang ke-12 telah menghilang di sebuah goa (dalam rumahnya). Diyakininya pula,
bahwa imam tersebut memiliki "ghaibah shugra" (menghilang untuk
sementara) dan "ghaibah kubra" (menghilang untuk selamanya).
Ini adalah salah satu mitos mereka.
6. Raj'ah (muncul kembali): Diyakini
bahwa Imam Hasan Al Askari akan datang kembali pada akhir zaman, ketika Allah
mengutusnya untuk tampil. Oleh sebab itu, setiap malam setelah shalat Maghrib,
mereka berdiri di depan pintu goa itu, dan mereka telah menyediakan sebuah
kendaraan, kemudian mereka pergi, dan mengulanginya lagi perbuatannya itu pada
malam berikutnya. Mereka berkata, bahwa ketika kembali, imam itu akan memenuhi
bumi dengan keadilan, ketika bumi sedang dibanjiri oleh kekejaman dan
kedlaliman. Dan ia akan melacak lawan-lawan Syi’ah sepanjang sejarah. Syi’ah
Imamiah ini benar-benar berkata, bahwa Imam itu pasti akan datang kembali,
bahkan sebagian sekte-sekte Syi’ah yang lainnya menyatakan bahwa sebagian
mereka yang mati pun akan datang kembali.
7. Taqiyah: Dianggapnya sebagai salah satu pokok ajaran agama. Barang siapa
yang meninggalkan taqiyah, sama hukumnya dengan meninggalkan shalat. Taqiyah
adalah suatu kewajiban yang tidak boleh dihapuskan, sampai yang berwenang
tampil, barang siapa yang meninggalkannya sebelum ia tampil, maka ia telah
keluar dari agama Allah dan dari agama Imamiah. Mereka mengambil dalil dengan
firman Allah:
"Kecuali karena (siasat) memelihara diri dari
sesuatu yang ditakuti dari mereka."
(QS. Ali Imran: 28)
Ayat ini mereka hubung-hubungkan dengan Abu Ja'far, imam yang kelima dengan
ucapannya: "Taqiyah adalah agamaku dan agama nenek moyangku. Tak ada imannya seseorang yang tidak memiliki taqiyah." Pemahaman taqiyah ini diperluas sampai kepada batas dusta dan
haram.
8. Muth'ah : Mereka
berpandangan bahwa memuth'ah wanita adalah adat yang terbaik dan pengorbanan
yang paling afdhal, berdasarkan kepada ayat:
"Maka
isteri-isteri yang telah kamu ni'mati (campuri) di antara mereka, berikanlah
kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban." (QS. An Nisa’: 24)
Padahal Islam
telah mengharamkan sistem perkawinan tersebut.
Suatu perkawinan yang persyaratannya dibatasi dengan waktu tertentu, yang
menurut Ahlus Sunnah, syaratnya harus menghadirkan niat untuk mengekalkannya
(kawin seterusnya, bukan kawin kontrak). Kawin muth'ah mempunyai banyak dampak
negatif di tengah-tengah masyarakat.
Mereka meyakini ada mushhaf versi mereka, yang namanya "Mushhaf
Fathimah." Dalam bukunya, "Al Kafi", halaman 57,
cetakan tahun 1278 H, Kulainy meriwayatkan dari Abi Basyir, yakni "Ja'far
Shadiq"berkata: "Kami mempunyai Mushhaf Fathimah radhiyallahu
‘anha.” Aku bertanya: “Apa itu Mushhaf Fatimah?” Ia berkata: “Sebuah Mushhaf
yang isinya seperti Qur'an kalian 3 kali, demi Allah, tidak ada satu huruf pun
isinya dari Al Qur'an kalian."
9. Lepas Tangan: Mereka lepas tangan dari ketiga orang khalifah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakar, Umar, dan Utsman radhiyallahu ‘anhum dan memberi mereka sifat-sifat yang tercela. Sebab menurut keyakinan mereka, ketiga orang khalifah itu telah merampas khilafah dari orang yang paling berhak untuk menerimanya. Mereka juga melaknat Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhuma dalam mengawali segala amal perbuatan yang baik, sebagai ganti dari membaca "Basmalah". Mereka juga tidak segan-segan untuk melaknat sebagian besar para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan tidak ketinggalan pula untuk melaknat dan menghina Ummul mu'minin 'Aisyah rhadhiyallahu ‘anha.
9. Lepas Tangan: Mereka lepas tangan dari ketiga orang khalifah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakar, Umar, dan Utsman radhiyallahu ‘anhum dan memberi mereka sifat-sifat yang tercela. Sebab menurut keyakinan mereka, ketiga orang khalifah itu telah merampas khilafah dari orang yang paling berhak untuk menerimanya. Mereka juga melaknat Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhuma dalam mengawali segala amal perbuatan yang baik, sebagai ganti dari membaca "Basmalah". Mereka juga tidak segan-segan untuk melaknat sebagian besar para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan tidak ketinggalan pula untuk melaknat dan menghina Ummul mu'minin 'Aisyah rhadhiyallahu ‘anha.
10. Berlebihan: Sebagian mereka
sangat berlebihan dalam menokohkan Ali radhiyallahu ‘anhu, bahkan ada yang
mengangkatnya sampai pada derajat "Tuhan" seperti sekte
"Sabaisme." Sebagian mereka ada yang berpendapat, bahwa Jibril telah
keliru dalam menyampaikan risalah, lalu diturunkannya kepada Muhammad
shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai ganti dari Ali radhiyallahu ‘anhu Sebab
Ali radhiyallahu ‘anhu itu hampir serupa dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam. Seperti serupanya seekor beo dengan beo yang lain. Oleh sebab itu,
yang berkeyakinan seperti itu disebut "Ghuraibah" (Beoisme).
11. Hari Besar
Ghadir Kham: Yaitu hari raya mereka yang jatuh pada
tanggal 18 Dzulhijjah. Menurut
mereka hari ini lebih mulia dari pada ‘Idul Adha dan ‘Idul Fithri. Hari itu disebut hari raya agung (Akbar). Mereka beranggapan bahwa
berpuasa pada hari itu hukumnya sunnah mu'akkad. Pada hari itu menurut
pengakuan mereka, bahwa Rasulullah SAW telah memberikan wasiat tentang
pengangkatan Ali radhiyallahu ‘anhu sebagai jhalifah, untuk menggantikan
beliau.
Diagungkannya hari "Nairuz", yaitu hari tahun
barunya bangsa Persia .
Sebagian mereka ada yang berpendapat, bahwa mandi pada hari itu adalah sunnah.
Mereka juga mempunyai hari agung yang diselenggarakan pada tanggal 9
Rabi’ul Awwal, yaitu hari raya "Bapak" mereka "Baba
Syuja'uddin", sebuah gelar bagi "Abu Lu'lu'ah Al-Majusi"
yang telah membunuh Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu.
Diselenggarakannya pesta-pesta hiburan, kematian, kesedihan,
berfoto-foto, dan menepuk dada, serta perbuatan-perbuatan terlarang lainnya
yang dipentaskan oleh mereka pada sepuluh hari pertama bulan Muharram, dengan
keyakinan bahwa itu semua dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah, menghapuskan
dosa dan kesalahan mereka; dan barang siapa yang menyaksikan mereka pada
pameran suci di Karbala, Nejev, dan Qum, pasti akan melihat sesuatu yang
aneh-aneh.


18.41
Unknown
Posted in:
0 komentar:
Posting Komentar