Jumat, 03 Februari 2012

syi'ah imamiyah



Ketika kita membahas masalah Syi’ah, maka gambaran yang paling kongkrit untuk melihatnya adalah Syi’ah Imamiyah Itsna ‘Asyriyah (Imam dua belas) ini. Karena ia mewakili dari semua penggambaran Syi’ah yang ada.


A.  TA’RIF (DEFINISI)
Syi’ah Imamiyyah 12 adalah sebuah kelompok yang berpegang teguh kepada keyakinan bahwa Ali adalah yang berhak mewarisi khilafah, dan bukan Abu Bakar, Umar ataupun Utsman radhiyallahu ‘anhum. Mereka meyakini adanya 12 imam. Imam yang terakhir menurut mereka sedang menghilang, masuk dalam goa di Sammara (sebuah kota di Irak dekat sungai Tigris, arah utara dari Baghdad). Sekte Imamiyah inilah yang bertentangan dengan Ahlus Sunnah Wal Jama'ah dalam pemikiran dan ide-idenya yang spesifik. Mereka sangat berambisi untuk menyebarkan madzhabnya ke segenap penjuru dunia Islam.

B.  SEJARAH BERDIRI DAN TOKOH-TOKOHNYA

Dua belas Imam yang dijadikan Imam oleh dan untuk mereka adalah sebagai berikut:
1.      Ali bin Abi Thalib radiyallahu ‘anhu, digelari dengan "Al-Murtadha", khalifah ke empat Khulafaur Rasyidin, menantu Rasulullah shallallhu ‘alaihi wasallam, dibunuh oleh Abdurrahman bin Muljim di Masjid Kufah pada tanggal 17 Ramadhan tahun 40 H.
2.      Hasan bin Ali radiyallahu ‘anhu, digelari "Al-Mujtaba".
3.      Husein bin Ali radliyallahu ‘anhu , digelari "Asy-Syahid" (yang mati syahid).
4.      Ali Zainal Abidin bin Husein (80-122 H), digelari "As-Sajjad".
5.      Muhammad Baqir bin Ali Zainal Abidin (wafat tahun 114 H), digelari "Baqir".
6.      Ja'far Shadiq bin Muhammad Baqir (wafat tahun 148 H), digelari "As-Shadiq" (sejati).
7.      Musa Kadzim bin Ja'far Shadiq (wafat tahun 183 H), digelari "Kadzim" (yang mampu menahan diri).
8.      Ali Ridha bin Musa Kadzim (wafat tahun 203 H), digelari"Ridha".
9.      Muhammad Jawwad bin Ali Ridha (195-226 H), digelari "Taqy" (yang banyak bertaqwa).
10.  Ali Hadi bin Muhammad Jawwad (212-254 H), digelari"Naqy"(suci-bersih).
11.  Hasan Askari bin Ali Hadi (232-260 H), digelari "Zaky"(yang suci).
12.  Muhammad Mahdi bin Muhammad Al-Askari yang digelari "Imam Muntadhar" (Imam yang dinantikan).
Diyakininya bahwa Imam yang ke dua belas telah masuk ke dalam goa.
Secara historis, di antara tokoh-tokohnya yang menonjol ialah Abdullah bin Saba', seorang Yahudi dari Yaman, yang berpura-pura memeluk Islam.
Ditransfernya apa-apa yang ditemukannya dalam ide-ide Yahudi kepada Syi’ah, seperti "Raj'ah" (munculnya kembali imam), tidak mati, menjadi raja di bumi, berkemampuan untuk melakukan sesuatu yang tak ada seorang pun yang mampu melakukannya, mengetahui apa yang tidak diketahui orang, ditetapkan sifat berpermulaan dan sifat lalai bagi Allah.
Adalah Abdullah bin Saba' yang pernah berkata ketika ia masih menganut agama Yahudi, bahwa Yusa' bin Nun telah mendapat wasiat dari Musa ‘alaihis salam, sebagaimana di dalam Islam, bahwa Ali radliyallahu ‘anhu, juga telah mendapat wasiat dari Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
Abdullah bin Saba<.st1:place>' telah berpindah dari Madinah ke Mesir, Kufah, Fusthath, dan Bashrah, kemudian berkata kepada Ali radliyallahu ‘anhu: "Engkau, Engkau!" dengan maksud engkaulah Allah. Sesuatu yang mendorong Ali radiyallahu ‘anhu, memutuskan diri untuk membunuhnya, tetapi Abdullah bin Abbas radiyallahu ‘anhu menasehatinya agar keputusan itu tidak dilaksanakan. Kemudian tokoh itu dibuang ke Madain.
Mansyur Ahmad bin Abi Thalib Al-Thabrassyi, wafat tahun 588 H, pengarang buku "Al-Ihtijaj" (Sebelum Protes, dicetak di Irak tahun 1302 H).
Kulainy, pengarang kitab "Al-Kafi", dicetak di Iran pada tahun 1278 H. Buku tersebut di kalangan mereka, setara dengan kitab Shahih Bukhari di kalangan Ahlus Sunnah. Diyakininya bahwa di dalam kitab itu terdapat 16199 buah hadits. Dan hadits yang diriwayatkan dari Rasulullah shallallhu ‘alaihi wasallam, kira-kira 6000 buah hadits. Di dalam kitab itu banyak terdapat hal-hal khurafat dan palsu.
Haj Mirza Husein bin Muhammad Taqi An-Nuri At-Thabrasyi, wafat tahun 1320 H. dimakamkan di pemakaman syuhada pilihan di Nejev, pengarang buku "Fashl Khitab Fi Ishbati Tahrifil Kitab Rab El Arbab". Di dalam buku ini, dijelaskan bahwa Al-Qur'an yang ada sekarang ini banyak ditambah-tambahi dan dikurangi. Antara lain kata mereka di dalam surat "Insyirah", kurang kalimat : "Dan kami jadikan Ali menantumu." Naudzu billah. Buku tersebut telah dicetak di Iran pada tahun 1289 H.
Ayatullah Al Mamaqani, pengarang buku "Tanqih Al-Maqal Fi Ahwali Ar-Rijal." Tokoh ini menurut mereka adalah dedengkotnya "Jarh Wat Ta'dil" (sebuah pembahasan dalam ilmu Musthalahul Hadits yang mempelajari sejarah hidup dan perilaku perawi-perawi hadits untuk menilai hadits yang diriwayatkannya). Di dalam buku tersebut, terdapat sesuatu yang menggelari Abu Bakar dan Umar radliyallahu ‘anhuma, dengan gelar "Tukang sihir/Dukun dan Thaghut." Silakan periksa buku itu juz I, hal. 207. Cetakan tahun 1352 H, percetakan Murtadhawiyah di Nejev.
Abu Ja'far Al-Tusyi, pengarang buku "Tahdzib Al-Ahkam" dan Muhammad bin Murtadha yang dipanggil dengan Mala Muhsin Al Kasyi, pengarang buku "Al Wafi" dan Muhammad bin Hasan Nur 'Amily, pengarang buku "Wasail Syi’ah Ila Ahadits As Syari'ah" dan Muhammad Baqir bin Syaikh Muhammad Taqy, yang dikenal dengan "Al-Majlisi", pengarang buku "Biharul Anwar Fi Ahadits An-Nabi Wal Aimmah Al-Athhar" dan Fathullah Al-Kasyani, pengarang buku "Manhaj As Shadiqin" dan Ibnu Abi Hadid, pengarang buku "Syarah Nahjul Balaghah."
Ayatullah Khoemaini, salah satu tokoh Syi’ah kontemporer, pemimpin revolusi Syi’ah Iran, yang mengendalikan roda pemerintahan. Ia mengarang buku "Kasyful Asrar" dan "Pemerintahan Islam". Walaupun ia menyatakan tentang ide wilayatul faqih, dan menjunjung tinggi slogan-slogan Islam secara umum pada awal revolusi, namun ternyata ia masih menanamkan akar-akar Syi’ah fanatik yang sempit, yang mengendalikan negara dan membawa kepada sebuah peperangan yang kejam kontra tetangganya sendiri, Irak.


0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | cheap international calls