1. Ahlus Sunnah menurut Syi’ah Itsna ‘Asyariyyah adalah kafir
Sunni (pengikut
sunnah) menurut mereka adalah nashibi (penipu/pembangkang). Baik itu
pengikut madzhab Syafi’i, Hambali, Maliki, lebih-lebih Hanafi.
Mereka namai Ahlus
Sunnah dengan nashibi (an nashib) karena mendahulukan ketiga
khalifah (Abu Bakar, Umar, dan Utsman) dari Ali radhiyallahu ‘anhu.
Berkata syaikh Husain Al ‘Usyfur
Ad Darazi Al Bahrain: “ Riwayat-riwayat imam menyebutkan bahwa an nashib
adalah apa yang mereka sebut sebagai sunni.” (dalam kitab Al Masasin An
nafsiyyah Fil Ajribah ‘Alalmasail al Khurasaniyyah: 147).
2. Ahlus
Sunnah menurut Syi’ah adalah najis
Berkata Abu Qasim Al Musawi Al Khuri: “Najis
adalah sepuluh macam, yang kesepuluh beragama Islam tetapi menolak yang datang
dari Islam. Dalam hal ini tidak ada perbedaan antara murtad, kafir asli, kafir
dzimmi, Khawarij yang ekstrim atau an nashib (Ahlus Sunnah).” (Dalam kitab
Manhajus Shalihin: 1/116. Nejef).
Berkata Sayid Muhammad Kadzim At Thabathaba’i: “Tidak
diragukan lagi tentang kewajiban kaum eksrim, Khawarij dan an nashib.”
(Dalam kitab Al ‘Urwatul Wutsqa: 1/64. Teheran).
Berkata Ruhullah Al Musawy: “Sedangkan
nashib dan Khawarij dilaknat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, keduanya adalah
najis tanpa diragukan.” (Dalam kitab Tahriru Al Wasilah: 1/118. Beirut ).
Bahkan syaikh mereka, Muhammad
Baqir Al Majlisi berkata: “Nuh ‘alaihis salam membawa anjing dan babi di
atas kepalanya dan tidak membawa anak zina. Dan an nashib lebih jahat dari anak
zina.”
3. Aqidah
Syi’ah terhadap orang-orang yang tidak mengakui imam dua belas
Menurut keyakinan
Syi’ah, mereka yang tidak mengakui imam dua belas adalah kafir.
Berkata Yusuf al-Bahrani: “Tidak ada
perbedaan sama sekali antara orang yang kafir kepada Allah subhanahu wata’ala
dan Rasul-Nya dengan orang yang kafir terhadap para imam.” (Dalam kitab: Al
Hadiq an-Nadhirah: 28/153, Beirut ).
Berkata Muhammad Muhsin: “Siapa yang
menantang salah seorang dari imam yang dua belas, maka ia berada pada posisi
orang yang menentang kenabian semua Nabi.” (Dalam kitab Manhaj Hadiq
an-Najad: 48, Beirut ).
Berkata Kamil Sulaiman: “Siapa yang meyakini
para imam dua belas maka ia adalah orang yang beriman, dan siapa yang
mengingkari mereka maka ia adalah orang kafir.” (Dalam kitab Al-Khalas fi
Dzilal al-Qaim al-Mahdi: 44, Beirut ).
4. Harta dan darah
Ahlus Sunnah di sisi Syi’ah
Setelah mereka menjuluki
Ahlus Sunnah dengan nashibi, merekapun mengkafirkannya, dan menganggap
najis. Lalu bagaimana mereka menyakini tentang darah
dan harta Ahlus Sunnah?
Berkata Muhammad bin Ali Al-Babawaih Al-Qummi,
dia meriwayatkan dari Daud bin Farqad: “Aku bertanya kepada Abu Abdillah
‘alaihis salam: “Bagaimana pendapat anda tentang membunuh Ahlus Sunnah?” Ia
menjawab: “Halal darahnya, tetapi akan lebih aman bila anda sanggup menimpuknya
dengan tembok, atau membenamkan kedalam air supaya tidak ada saksi.” Aku
bertanya lagi: “Bagaimana dengan hartanya?” Ia menjawab: “Sikat saja
semampumu.” (Dalam kitab ‘Ilal As Syarai’: 1/601, Nejef).
Berkata Abu Ja’far At-Thusi: “Berkata Abu
Abdullah (imam As-Shadiq): “Ambillah harta an nashib di mana pun kamu
mendapatkannya dan berikan kepada kami seperlimanya.” (Dalam kitab
Tahdzibul Ahkam: 17/122, Teheran).
Bahkan Khoemaini berkata : “Pendapat yang
kuat mengatakan bahwa an nashib adalah ahlul harb dalam kehalalan rampasan
perang yang diambil dari mereka dengan syarat menyisihkan seperlimanya, bahkan
jelas kebolehan mengambil hartanya di manapun berada dengan cara apapun serta
kewajiban mengeluarkan seperlimanya.” (Dalam kitab Tahrir Al Wasilah:
1/305).
5.
Diperkenankannya
menghina Ahlus Sunnah
Syi’ah menamai Ahlus Sunnah dengan banyak nama, di
samping an nashib mereka juga menamai dengan al mukhalifin
(orang-orang sempalan). Apa yang mereka yakini terhadap al-Mukhalifin ?
Berkata Khomeini: “Selanjutnya tampak jelas
kekhususan larangan menghina orang dan ini berarti boleh menghina
al-Mukhalifin, kecuali karena sebab taqiyyah.” (Dalam kitab Al-Makasib Al-Muharramah:
1/249).
Berkata Sayid Abdul Husain Dastaghrib: “Harus
diketahui bahwa larangan menghina hanya berlaku untuk orang yang beriman, yaitu
yang percaya dengan keyakinan-keyakinan yang benar, yang di antaranya yakin
terhadap imam yang dua belas, karena menghina orang-orang selain itu tidaklah
haram.” (Ad Dzunnun Al Kabirah: 2/267, Beirut ).
Berkata syaikh mereka Muhammad Hasan An-Najfi: “Kesimpulannya
jelas, bahwa kekhususan larangan itu berlaku bagi orang-oarng yang beriman yang
meyakini imam-imam yang dua belas saja, dan tidak berlaku bagi orang-orang
kafir dan mukhallafin (Ahlus Sunnah) walaupun hanya mengingkari salah satu imam
‘alaihis salam.” (Jawahir
al-Kalam: XXII/63)
6.
Sikap
Syi’ah terhadap empat imam madzhab
Jika Syi’ah menampakkan penghormatan kepada keempat
imam madzhab, maka yang demikian itu hanyalah dalam rangka taqiyyah saja.
Berkata Muhammad bin Umar Al-Kissyi dari Harun bin Harijal berkata: “Aku
bertanya kepada Abu Abdullah tentang firman Allah yang artinya: “Orang-orang
yang beriman dan tidak mencampurkan keimanan mereka dengan kedhaliman.” Ia
menjawab: “Hal itu adalah yang berhak diterima oleh Abu Hanifah dan Zararah,
Abu Hurairah dan semisalnya.” (Dalam kitab Ikhtiyar Ma’rifah ar-Rijal
al-Ma’ruf bi Rijal al-Kissyi: 149, Iran ).
Dalam riwayat lain ia menjawab: “Wahai Abu Basyir!
aku dan anda berlindung kepada Allah dari kedhaliman itu. Ini adalah apa yang
diyakini oleh Zararah, sahabat-sahabatnya dan Abu Hanifah serta
sahabat-sahabatnya.” (Idem: 149).
Muhammad Ridha Ar-Ridhawi berkata: “Sekiranya pengaku-pengaku Islam dan sunnah mencintai
Ahlul Bait tentu mereka tidak akan mengambil ketentuan-ketentuan hukum agama
mereka dari orang-orang yang menyimpang seperti Abu Hanifah, Syafi’i, Malik,
dan Ibnu Hambal.” (Kaddzabu ‘Ala Syi’ah:
279, Iran ).
Sayid Ni’matullah Al-Jazairi berkata: “Aku menyebutkan ini supaya jelas banyak masalah bagi
anda, antara lain tentang ibadah mukhallifin. Mereka beragama bukan melalui
pintunya, mereka menjadikan madzhab yang empat sebagai perantara-perantara dan
pintu antara mereka dengan Tuhan.”
(Qashsashul Anbiya: 347, Beirut )
7.
Semua
sanad dan riwayat Syi’ah pasti bertentangan dengan yang lain.
Tidak satupun riwayat yang dimiliki Syi’ah yang
berasal dari para imam mereka yang ma’shum, kecuali mesti terdapat pertentangan
dengan yang lain.
Berkata As-Sayyid Dalhar Ali Al-Ludnawi: “Hadits-hadits
yang berasal dari para imam ini amat beragam. Hampir tidak dijumpai satu hadits
pun melainkan ada lagi hadits lain yang menafikan. Dan hampir tidak ada
kesepakatan riwayat, kecuali terdapat riwayat lain yang bertentangan, hingga
yang demikian ini menjadikan orang yang lemah berpaling dari keyakinan yang
benar.” (Asasu Al-Ushul: 15. Lucknow ,
India )
8.
Syi’ah
dan Taqiyyah.
Taqiyyah (menampakkan Islam secara dhahir dan
menyembunyikan Syi’ah di batin), adalah merupakan agama bagi mereka.
Berkata Muhammad bin Ya’kub Al-Kulaini dari
Muhammad bin Khalad bahwa Abu Ja’far berkata: “Taqiyyah termasuk agamaku dan
agama nenek moyangku. Dan tidak ada iman bagi orang yang tidak memiliki
taqiyyah.”
(
Ushul Min Al-Kafi: II/219 )
Di kitab yang sama berkata Abu Abdullah: “Hai
Abu Umar, sesungguhnya sembilan persepuluh dari agama terletak pada taqiyyah.
Tidak ada agama bagi mereka yang tidak memiliki taqiyyah. Taqiyyah ada pada
segala sesuatu, kecuali arak dan mengusap sepatu.” (Idem: II/217)
Muhammad Ridha Muzhaffar berkata: “Diriwayatkan Shadiq Al-Bait: “Taqiyyah adalah agamaku
dan agama nenek moyangku. Barangsiapa yang tidak memiliki taqiyyah, tidak
memiliki agama.”(Ad Du’at ‘Aqaid Al-Imamiyyah Fadhlu ‘Aqidatuna fi
Taqiyyah).
Kulaini meriwayatkan
dari Abu Abdullah: “Taqiyyah adalah perisai Allah di antara Ia dan
makhluk-Nya.” (Al-Kaafi: II/218-220)
Dalam riwayat yang lain: “……Allah Subhanahu wa
Ta’ala enggan terhadap kami dan kamu dalam agama-Nya kecuali taqiyyah.” (
Idem )
Dalam riwayat yang lain. Ayah saya berkata: “Tidak ada sesuatu yang
mantap dari pandanganku dari taqiyyah. Taqiyyah adalah perisai bagi orang
beriman.”
( Idem ).
Khomaeni berkata: “Boleh bertaqiyyah bahkan
keharusannya tidak ditentukan lantaran terhadap ketakutan diri atau lainnya. Tetapi yang jelas kepentingan golongan menjadi sebab wajibnya untuk
bertaqiyyah terhadap mukhalifin (Ahlu Sunnah). Jadi kitman sirri
(menyembunyikan rahasia) itu menjadi wajib sekalipun sedang aman dan tidak
khawatir atas keselamatan dirinya.” (Ar-Rosail:
II/201)
Diriwayatkan dari Ali Muhammad: “Wahai Daud,
sekiranya kamu mengatakan bahwa orang yang meninggalkan taqiyyah seperti orang
yang meninggalkan shalat, (berarti)
sesungguhnya kamu benar.” (Wasail Asy-Syi’ah: XI/466. Teheran ).
As-Shadiq berkata: “Kewajibanmu
adalah bertaqiyyah. Sesungguhnya tidaklah termasuk kelompok kita orang yang
tidak menjadikan taqiyyah sebagai simbol dan selimutnya di masa aman.”
(Idem)
9.
Kapan
Taqiyyah dilepas
Taqiyyah akan dilepas pada waktu munculnya imam mereka
yang dikhayalkan (Al-Kasyaf) dan kemudian melakukan balas dendam terhadap
musuh-musuh Allah (baca Ahlus Sunnah).
Berkata Ja’far As-Shadiq ketika menafsirkan
firman Allah:“Maka apabila sudah datang janji Rabbku. Dia akan menjadikan
hancur luluh …”
Ia berkata: “Taqiyyah akan dicabut pada waktu
al-kasyaf, lalu ia melakukan balas dendam terhadap musuh-musuh Allah.” (Idem: XI/467)
Maha guru mereka Ayatullah Haji Mirza Muhammad Tasiyyi
Ash-Shafahani mengutip tafsir Ali bin Ibrahim Al-Qummi tentang firman Allah:
“Karena itu beri tangguhlah orang-orang kafir,
yaitu beri tangguhlah mereka itu barang sebentar.”
(QS. AthThariq: 17).
Ia mengatakan: “Menunggu yang dimaksud adalah
menunggu kebangkitan imam ghaib. Lalu ia akan melakukan balas dendam terhadap
orang-orang yang bengis dan thaghut dari kalangan Quraisy, bani Umayyah, dan
seluruh orang.”
Ayatullah Ashfahani
mengutip sebuah riwayat dari Ali bin Hasan yang mengatakan: “Bila imam ghaib
datang, Allah menghilangkan kelemahan dari Syi’ah kita, menjadikan hati mereka
seperti baja, menambahkan kekuatan empat puluh orang, dan mereka menjadikan
para penguasa dan pemimpin bumi.”
Muhammad Al-Baqir Al-Majlisi, dikutip dari kitab Ats-Tsaurah Al-Iraniyyah fi Mizan Al-Islam:
148, ia berkata: “Mereka saling menikahi dan mewarisi dengan kita sampai
imam Mahdi muncul, dimana ia mulai membunuh ulama Ahlus Sunnah dan setelah itu
orang awam mereka.”
Syaikh Muhammad bin Muhammad bin Shadiq
mengutip riwayat dari Abu Ja’far yang berkata: “Bila imam ghaib datang, ia
akan memerintah dengan hukum Daud, ia tidak meminta penjelasan.” (Tarikh Ma Ba’da Dzuhur: 728, 810. Beirut)
Berkata Ash-Shadiq: “Dunia akan berakhir sebelum keluar seorang pria
dari kalanganku yang akan memerintah dengan syariat Daud.” (Idem: 728)
Pada buku yang sama halaman
115, disebutkan riwayat dari Abu Ja’far: “Imam ghaib akan datang dengan
perintah baru, buku baru, dan peradilan baru yang berat atas orang Arab. Urusannya tidak lain kecuali pedang.”
11. Imam ghaib pada Syi’ah membawa kitab baru.
12. Tidak ada jihad tanpa imam Mahdi.
13. Meyakini adanya nash atas kekhalifahan Ali
radhiyallahu ‘anhu.
14. Kutukan mereka terhadap manusia-manusia
terbaik setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu: Abu Bakar,
Umar, putri keduanya, dan bahkan seluruh Ahlus Sunnah.
Mereka memahami bahwa Abu Bakar dan Umar sebagai dua
berhala Quraisy. Bahkan merka mempunyai do’a khusus untuk Abu Bakar dan Umar
(do’a shanamai Quraisy) dengan isinya yang sangat keji.
15. Syi’ah lebih mengutamakan imam yang duabelas
daripada para Nabi ‘alaihis salam.
Berkata Muhammad Ridha Al-Muzhafffar dalam ‘Aqaid
Asy-Syi’ah: 93,94,95,98. Qum Iran :
“Kita menyakini bahwa imam adalah salah satu pokok
agama. Tidak sempurna iman kecuali dengan meyakini bahwa imam itu adalah
seperti nubuwwah( kenabian ) .. atas dasar ini, maka imam adalah kelanjutan
dari kenabian .. kita menyakini bahwa imam itu seperti Nabi, harus ma’shum
(bebas dari dosa) baik yang nyata atau tersembunyi…, kita meyakini bahwa para
imam adalah ulil amri ( penguasa )…bahkan kita meyakini bahwa perintah mereka
adalah perintah Allah dan larangan mereka adalah larangan
Allah. Mematuhi mereka berarti mematuhi Allah dan mendurhakai mereka berarti
mendurhakai Allah Subhanahu wa ta’ala.”[1]
[1] Tulisan ini kami sadur dari
Majalah As-Sunnah, edisi 16/Th. Ke-2. yang diringkas dari kitab yang ditulis
oleh Syaikh Abdurrahman bin Abdullah Al-Mudhuli yang berjudul Hakikat Syi’ah.
Penerbit Al Hidayah.


18.25
Unknown
Posted in:
0 komentar:
Posting Komentar